Impostor Syndrom: Ketika Keraguan Ku Muncul atas Semua Pencapaian Ku
Hai Sahabat Omi. Kalo ngomongin kata “impostor” kalian pasti inget sama game Among Us yang viral saat masa pandemi beberapa waktu lalu. Impostor dalam game yang dapat dimainkan pemain jamak secara daring ini, berperan sebagai penipu dan menyamar didalam tim. Sang penipu dapat memenangkan permainan dengan menyabotase dan membunuh semua anggota tim sebelum ada anggota tim yang dapat menebak/mengetahui siapa impostor yang sedang menyamar dalam tim. Tetapi Sahabat Omi, Impostor atau sang penipu ini nggak cuma ada di game aja lho. Dalam ilmu psikologi terdapat pula sindrom penipu atau yang lebih dikenal dengan Impostor syndrome.
Impostor syndrome atau sindrom penipu menurut Tri Hayuning Tyas, S.Psi., M.A., seorang Psikolog Klinis UGM merupakan sebuah gejala atau tanda psikologis yang dialami seseorang berupa keraguan untuk dapat menerima pencapaian, prestasi, ataupun kesusksesan dalam hidup. Keraguan tersebut muncul dalam bentuk pemikiran/perasaan bahwa pencapaian, prestasi, ataupun kesusksesan dalam hidup yang berhasil diraih karena faktor keberuntungan dan bukan dari usaha, keterampilan, dan potensi yang ia miliki. Pemikiran tersebutlah yang membuat seseorang dengan impostor syndrom takut ketika kelak orang-orang menganggap keberhasilannya hanya karena beruntung, bukan karena potensi dalam dirinya.
Dikutip dari Greatmind.id banyak tokoh-tokoh besar dunia pernah mengalami sindrom penipu ini mulai dari Neil Gaiman, Neil Amstrong, Lady Gaga, David Bowie, Tom Hanks, Michelle Obama, Serena Williams, Albert Einstein, Maya Angelou, dan Natalie Portman. Hal tersebut memeperlihatkan bahwa impostor syndrome dapat terjadi pada wanita ataupun pria dengan berbagai latar profesi. Dilansir dari kesehatan.kontan.co.id, International Journal of Behavioral Science memperkirakan sekitar 70% orang mengalami sindrom ini dalam kehidupannya.
Meskipun belum diketahui secara pasti penyebab impostor syndrome. Terdapat faktor yang memicu impostor syndrome yaitu
- Tuntutan lingkungan social terkait kesuksesan
- Pola asuh keluarga
- Berkaitan dengan sifat perfekisonis
Tri Hayuning Tyas berbagi beberapa cara untuk mengatasi ataupun mencegah impostor syndrome yaitu
- Menanamkan atau merubah pemikiran kita bahwa bukan kesempurnaan yang menjadi tujuan. Tetapi seberapa kuat usaha kita untuk melakukan yang terbaik;
- Mengenali dan menghargai kemampuan diri;
- Menulis prestasi diri, potensi diri, dan apresiasi dari orang lain dan membacanya kembali ketika merasakan keraguan;
- Membicarakan perasaan keraguan atas keberhasilan dan ketidakmampuan diri dengan mentor atau orang yang dipercaya.
Menurut Tri Hayuning Tyas, meskipun impostor syndrome bukan tergolong gangguan jiwa, akan tetapi dapat menyebabkan stres, kecemasan, bahkan depresi. Untuk itu tetap diperlukan konsultasi dan diagnosis dari psikolog profesional. Untuk layanan konsultasi psikologi baik untuk pengembangan pribadi, minat, dan karir Sahabat Omi dapat menghubungi kontak Rumah Konsul pada 081215518428. Supaya nggak ketinggalan informasi terupdate dari Rumah Konsul, Sahabat Omi dapat mengikuti Instagram Rumah Konsul pada link https://www.instagram.com/rumahkonsul_id/ .
Referensi:
Ika. (2021). Psikolog UGM Paparkan fakta Impostor Syndrom. Diakses dari https://www.ugm.ac.id/id/berita/20226-psikolog-ugm-paparkan-fakta-impostor-syndrome
Anita, M. (2019). On Marissa’s Mind: Sindrom Penipu. Diakses dari https://greatmind.id/article/on-marissa-s-mind-sindrom-penipu
Ratriani, V. (2020). Apa Itu Impostor Syndrom? Berikut Penjelasannya. Diakses dari https://kesehatan.kontan.co.id/news/apa-itu-impostor-syndrome-berikut-penjelasannya?page=all